Hokkaido bukan sekadar destinasi musim dingin yang menawarkan keindahan salju dan kelezatan kulinernya. Pulau paling utara di Jepang ini menyimpan kekayaan budaya yang mendalam, terutama melalui warisan seni kriya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Setiap kerajinan yang lahir dari tangan para pengrajin lokal mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam liar Hokkaido yang megah, mulai dari hutan kayu yang lebat hingga tradisi masyarakat pesisir yang tangguh.
Mengenal kerajinan khas Hokkaido berarti menyelami sejarah panjang suku asli Ainu serta inovasi masyarakat modernnya dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Dari ukiran kayu yang sarat makna spiritual hingga pemanfaatan material industri menjadi karya seni unik, setiap benda memiliki cerita tersendiri. Jika kamu ingin mencari kenang-kenangan autentik, berikut adalah lima kerajinan khas Hokkaido yang memadukan filosofi, ketahanan, dan keindahan estetika yang luar biasa.
1. Traditional Ainu Crafts
Table of Contents
Pulau Hokkaido, pulau paling utara Jepang, adalah rumah bagi suku Ainu, penduduk asli yang sangat menghormati alam dan percaya bahwa Tuhan ada di mana-mana. Dahulu mereka bertahan hidup dengan berburu, memancing, dan mencari makanan, serta menciptakan banyak benda indah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti pisau dan pakaian.
Kerajinan ini bukan sekadar hiasan, melainkan wujud syukur kepada Kamuy (roh dewa) yang mereka yakini bersemayam dalam setiap elemen alam. Pola-pola geometris yang rumit sering kali disematkan pada peralatan kayu dan sulaman kain dengan kepercayaan bahwa desain tersebut dapat melindungi pemakainya dari roh jahat.
Baca juga: Rekomendasi 5 Makanan Khas Lokal Hokkaido
2. Nibutani Trays
Nampan kayu ukir tangan yang menampilkan motif tradisional unik budaya Ainu, termasuk spiral lembut, mata berbentuk berlian, duri, dan sisik ikan. Setiap bagian dibuat dengan rumit untuk menonjolkan serat kayu. Para bujangan Ainu tidak memasang cincin, mereka mengukir tanda cinta, termasuk nampan Nibutani.
Keistimewaan nampan ini terletak pada teknik ukirannya yang menciptakan dimensi visual yang hidup saat terkena cahaya. Selain sebagai wadah penyaji, nampan Nibutani kini dianggap sebagai karya seni rupa tinggi yang melambangkan ketelatenan dan kasih sayang, menjadikannya hadiah yang sangat berharga bagi pasangan atau kolektor seni kayu.
3. Nibutani Tree-Bark Textiles
Kulit kayu dari pohon elm Manchuria atau pohon jeruk nipis Jepang dipintal dan ditenun dengan tangan menjadi kain bertekstur khas. Digunakan dalam kimono regional, pakaian kerja, dan aksesori, tekstil alami yang tahan lama dan bernapas ini adalah Gore-Tex-nya Ibu Pertiwi. Kain kulit kayu Nibutani merupakan bahan umum di rumah tangga Ainu selama berabad-abad.
Proses pembuatannya sangat memakan waktu, mulai dari menguliti kayu secara hati-hati agar pohon tetap hidup, merendamnya di air panas, hingga memisahkan serat-serat halus secara manual. Hasilnya adalah kain dengan warna bumi yang sangat kuat, tahan air, dan memiliki karakter organik yang tidak bisa ditiru oleh pabrikan modern manapun.
4. Yakumo Wood-Carved Bears
Para petani di kota kecil Yakumo, Hokkaido, tidak dapat bekerja di musim dingin karena salju, sehingga pada tahun 1924 mereka mulai mengukir kibori kuma sebagai suvenir untuk menghasilkan uang dan mengatasi kebosanan. Ukiran beruang yang menggigit salmon ini telah menjadi salah satu suvenir paling ikonik di Hokkaido.
Meskipun awalnya dibuat dengan tujuan untuk menyambung hidup, setiap ukiran beruang memiliki karakter ekspresi yang berbeda-beda tergantung pada senimannya. Saat ini, kibori kuma telah berevolusi dari sekadar suvenir klasik menjadi objek desain interior minimalis yang digemari oleh generasi muda karena nilai historis dan kehangatan material kayunya.
5. Bolta Figurines
Bolta ningyo adalah boneka yang dibuat dari baut, mur, ring, dan komponen lainnya, yang diproduksi di Muroran, sebuah kota penghasil besi di Hokkaido. Boneka bolta setinggi lima sentimeter ini hadir dalam 100 pose, tampil sebagai panglima perang, musisi, penyanyi, pemain tenis, ahli upacara minum teh, astronom, pemikir, dan banyak peran lainnya.
Boneka ini merupakan representasi kreatif dari identitas Muroran sebagai “Kota Industri Baja” yang bertransformasi menjadi karya seni yang jenaka. Detail kecil pada setiap pose menunjukkan kreativitas tanpa batas, di mana material industri yang kaku dan dingin diubah menjadi figur-figur yang memiliki “nyawa” dan kepribadian yang unik.
Baca juga: Open Trip Hokkaido musim dingin ” Winter Hokkaido 2026 ” 21 – 25 Januari 2026



