Sakura bukan cuma bunga pink cantik yang bikin orang ramai-ramai hanami setiap musim semi! Di balik keindahan kelopak pink-putih yang melayang, ada banyak cerita dan makna budaya yang dalam dari Jepang. Berikut 9 fakta menarik tentang sakura yang mungkin belum kamu tahu – dari sejarah hanami hingga alasan kenapa dango lebih penting daripada bunga itu sendiri.
1. Hanami Sudah Ada Sejak Tahun 812
Table of Contents
Menurut catatan tertua Jepang, Nihon Shoki, pesta hanami pertama kali diadakan pada tahun 812 di masa kekaisaran. Awalnya hanya eksklusif untuk keluarga kekaisaran dan bangsawan, tapi lambat laun menyebar ke kalangan samurai. Pada abad ke-18, shogun Tokugawa Yoshimune mendorong penanaman sakura di seluruh negeri, sehingga hanami jadi hiburan rakyat biasa hingga sekarang.
2. Sakura Lebih Cantik Saat Gugur (Mono no Aware)
Bunga sakura biasanya hanya bertahan seminggu di puncak mekar, lalu gugur perlahan. Orang Jepang justru merayakan saat kelopak gugur sebagai mono no aware – konsep estetika yang menghargai “kepedihan hal-hal yang berlalu”. Keindahan sementara itulah yang membuat sakura begitu menyentuh hati.
3. Sakura Bukan Pink (Tapi Sakura-iro)
Warna sakura sering disebut pink, tapi dalam budaya Jepang punya nama khusus: sakura-iro. Ini warna tradisional yang muncul di kimono, lukisan, dan kerajinan. Faktanya, sakura punya banyak variasi warna – dari pink pucat hingga hampir putih – tergantung jenis pohon dan kondisi cuaca.
4. Bunga Bukan yang Paling Penting (Hana yori Dango)
Meski hanami artinya “melihat bunga”, pepatah terkenal hana yori dango (“dango lebih penting daripada bunga”) lebih mendominasi. Orang Jepang lebih fokus pada makanan, minuman, dan obrolan bersama teman daripada hanya memandang bunga. Dango, bir, dan makanan piknik jadi bintang utama di bawah pohon sakura.
5. Dango Hanami Hanya Punya 3 Warna – Musim Gugur Ditinggal
Tusuk dango hanami biasanya berwarna pink (sakura-iro), putih, dan hijau – melambangkan musim semi, dingin, dan musim panas. Musim gugur tidak ada warnanya! Penjelasan umum: “tidak ada musim gugur” (aki nai) dalam bahasa Jepang sama bunyinya dengan “tidak akan bosan”. Jadi, dango ini dianggap simbol “selalu seru”.
6. Sakura Bukan Bunga Nasional Jepang
Meski sakura adalah bunga paling dicintai di Jepang, secara resmi Jepang tidak punya bunga nasional. Bunga krisan (chrysanthemum) ada di Lambang Kekaisaran Jepang dan lebih “resmi”. Tapi sakura muncul di koin ¥100, sementara krisan di koin ¥50 – tanda betapa sakura lebih disayangi rakyat.
7. Sakura Punya 11 Tahap Mekar
Badan Meteorologi Jepang biasanya pakai 7 tahap untuk ramal “front sakura” (sakura zensen). Tapi penggemar sakura ekstrem punya 11 tahap: budding, bulging bud, flowering, 10%, 30%, 50%, 70% bloom, full bloom, starting to fall, falling, dan officially over. Pengamat sakura resmi harus sangat teliti!
8. Ada Pohon “Standar” yang Menentukan Musim Semi Dimulai
Japan Meteorological Agency menunjuk satu pohon sakura “standar” di setiap wilayah sebagai patokan. Di Tokyo, pohon somei-yoshino di Yasukuni Shrine yang jadi acuan. Jika 5–6 bunga di pohon itu sudah mekar, maka secara resmi musim semi dimulai di Tokyo – dan seluruh kota langsung heboh hanami!
9. Sakura Bisa Dimakan – Bahkan Jadi Camilan Favorit
Bunga sakura bukan hanya dipandang, tapi juga dimakan! Banyak makanan dan minuman bertema sakura: sakura mochi, sakura ice cream, sakura tea, sakura manju, hingga sakura anmitsu. Kelopak sakura diasinkan atau dijadikan selai, memberikan aroma dan rasa khas yang lembut.
Sakura bukan sekadar bunga musim semi – ia adalah simbol filosofi hidup Jepang: keindahan yang sementara, kesederhanaan, dan kegembiraan bersama. Tahun 2026, saat kamu hanami di bawah pohon sakura, ingat fakta-fakta ini agar pengalamanmu lebih dalam. Rencanakan trip hanami Anda di tourjepang.co.id – kami bantu paket sakura 2026, hotel view bunga, transportasi JR Pass, dan itinerary hanami terbaik.



