Day Trip ke Hakone dari Tokyo: 3 Rute dengan Sewa Mobil Jepang
Ada alasan mengapa wilayah Hakone tidak pernah sepi pengunjung, bahkan di musim yang dianggap tidak ramai. Letaknya yang berada di antara tekanan atmosfer Tokyo dan gelembung vulkanik Pegunungan Hakone menciptakan zona mikroklimatik yang unik. Di pagi hari, kabut sering menyelimuti lembah sebelum matahari tengah menyingkirkannya, memperlihatkan Danau Ashi yang permukaannya berkilau seperti logam yang baru dipoles. Di sepanjang jalan pegunungan, bau belerang tercium samar-samar — bukan dari polusi, tapi dari ventilasi geothermal yang masih aktif di bawah kaki pengunjung. Hakone bukan sekadar kota spa. Kawasan ini terbagi menjadi beberapa “lapisan” yang masing-masing memiliki karakter berbeda: dari pintu masuk Yunoto yang riuh dengan toko manisan dan oleh-oleh, ke ketinggian Togendai di mana angin mulai menggigit, hingga senja di Gora yang keheningannya hanya dipecah oleh gemericik air terjun kecil di dekat stasiun kereta pegunungan. Memahami lapisan-lapisan inilah yang membedakan perjalanan biasa dengan pengalaman yang benar-benar diingat.
3 Pilihan Rute Day Trip ke Hakone bersama Sewa Mobil Jepang
Table of Contents
Opsi 1: Rute Klasik Lingkar Hakone (Hakone Loop)
- Durasi estimasi: 08.00 — 19.00
- Cocok untuk: Pertama kali ke Hakone, keluarga, pemburu foto ikonik
– 08.00 — Penjemputan dari hotel di pusat Tokyo. Sopir melaju menuju Tomei Expressway, lalu belok ke Jalur Odawara menuju Hakone. Perjalanan memakan waktu sekitar 90 menit tergantung kondisi lalu lintas di gerbang tol Atsugi.
– 09.50 — Tiba di area Moto-Hakone. Berjalan menyusuri jalan setapak berupa tangga batu yang sedikit licin saat musim hujan menuju Hakone Shrine. Torii besar berwarna merah-hitam berdiri di tepi danau, sebagian tenggelam saat air naik di musim penghujan. Spot ini paling ramai sekitar pukul 10.30, jadi kedatangan sebelum pukul 10.00 memberikan kesempatan foto dengan latar Danau Ashi yang lebih tenang.
– 10.45 — Naik Hakone Sightseeing Cruise dari dermaga Moto-Hakone. Kapal berdesain bajak laut ini berlayar selama 30 menit melintasi Danau Ashi menuju Togendai. Dari dek atas, pemandangan ke arah barat menunjukkan puncak Gunung Fuji yang muncul dan menghilang sesuai cuaca, sementara sisi timur dikelilingi pegunungan Hakone yang bertekstur seperti kulit buah jeruk kering.
– 11.30 — Tiba di Togendai. Singgah sebentar di kios setempat untuk mencoba manisan kuro-tamago biasa (versi panggang, bukan yang dari Owakudani) atau es krim matcha dengan cone yang terlalu besar untuk ukuran porsi standar.
– 12.00 — Naik Hakone Ropeway dari Togendai menuju Owakudani. Perjalanan kereta gantung memakan waktu sekitar 16 menit dengan pemandangan lembah vulkanik di bawah. Jangan lewatkan pemandangan kawah aktif yang mengeluarkan uap putih tebal di antara batu-batu berwarna oker dan zaitun.
– 12.30 — Tiba di Owakudani. Udara di sini terasa lebih tipis dan berbau belerang yang tajam. Tim kami selalu menyarankan pengunjung untuk langsung membeli telur rebus hitam (kuro-tamago) yang dijual dalam keranjang kertas isi empat atau lima butir. Meski klaim “menambah umur tujuh tahun” lebih kepada mitos pemasaran, tekstur kulit telur yang berwarna hitam pekat karena reaksi belerang dan rasa putihnya yang sedikit lebih gurih memang unik. Selain itu, area observasi memiliki papan informasi yang menjelaskan letusan Gunung Hakone tahun 2015 yang sempat menutup seluruh rute ini selama beberapa bulan.
– 13.30 — Makan siang di restoran di sekitar Owakudani. Menu yang tersedia sebagian besar menggunakan bahan lokal seperti daging babi black pork, tofu yose, atau curry dengan topping telur kuro-tamago. Harga cenderung lebih mahal karena lokasi ketinggian, namun pemanas ruangan di dalam restoran sangat diapresiasi saat suhu luar turun di bawah 5 derajat Celsius.
– 15.00 — Melanjutkan perjalanan ropeway menuju stasiun Sounzan. Dari sini, turun menggunakan Hakone Tozan Cable Car menuju Gora. Turunan ini menawarkan pemandangan lembah yang tertutup cedar dan maple, terutama indah saat musim gugur ketika warna dedaunan mulai berganti.
– 15.45 — Gora Park. Taman ini sering terlewatkan wisatawan yang buru-buru, padahal memiliki koleksi camellia dan rosarium yang rapi, serta sebuah rumah kaca berisi tanaman tropis. Tersedia juga kolam kaki air panas (ashiyu) yang bisa dinikmati secara gratis dengan pemandangan lembah di bawah.
– 17.00 — Mobil menjemput di area Gora atau Hakone-Yumoto untuk perjalanan kembali ke Tokyo.
– 19.00 — Drop off di hotel area pusat kota.
—
Opsi 2: Rute Seni dan Alam Tanpa Antrean
- Durasi estimasi: 08.00 — 19.30
- Cocok untuk: Pecinta seni, pasangan, yang ingin menghindari keramaian rute wisatawan
– 08.00 — Berangkat dari Tokyo. Alih-alih langsung ke pusat Hakone, sopir mengambil jalur yang sedikit memutar via Gotemba untuk menghindari kemacetan di pintu masuk Odawara pada jam sibuk.
– 09.45 — Hakone Open-Air Museum (Chokoku no Mori) di area Gora. Museum seni patung terbuka ini beroperasi sejak 1969 dan menampilkan karya-karya Pablo Picasso, Henry Moore, hingga instalasi interaktif anak-anak. Wahana “Symphonic Sculpture” yang berupa menara kaca berwarna-warni bisa didaki hingga puncak untuk panorama lembah. Biaya masuk sekitar 1.600 yen, namun koleksinya sebanding dengan museum di kota-kota besar seperti Tokyo atau Osaka.
– 11.30 — POLA Museum of Art, terletak sekitar 10 menit perjalanan mobil dari Chokoku no Mori. Museum ini memiliki arsitektur modern dengan dinding kaca yang memantulkan pepohonan pinus di sekitarnya. Koleksinya berfokus pada lukisan Impresionisme, termasuk karya Monet, Renoir, dan Sisley. Tempat ini relatif tidak dikenal wisatawan asing massal, sehingga suasana di dalamnya tetap tenang bahkan di akhir pekan.
– 13.00 — Makan siang di restoran Prancis lokal bernuansa ryokan di sekitar Gora. Beberapa restoran di area ini menawarkan set menu yang menggabungkan teknik masakan Prancis dengan bahan lokal seperti daging Wagyu Odawara atau sayur-sayuran pegunungan.
– 14.30 — Hakone Botanical Garden of Wetlands. Taman ini jauh dari radar wisatawan umum. Terletak di kaki Gunung Soun, taman ini menampilkan ekosistem rawa pegunungan dengan kolam-kolam air tawar, boardwalk kayu, dan koleksi spaghnum moss yang tumbuh subur karena kelembaban tinggi. Boardwalk mengarah ke hutan cedar tua yang diametron batangnya lebih besar dari lingkaran lengan orang dewasa.
– 16.00 — Amazake Chaya, sebuah kedai teh tradisional yang sudah berdiri sejak era Edo di tepi Jalan Tokaido kuno. Bedak kayu hangat, atap jerami yang dibangun tanpa paku, dan menu amazake (minuman beras fermentasi non-alkohol) yang disajikan dalam cangkir kayu. Meja-meja rendah menghadap ke lembah dan jalan setapak berbatu yang dahulu dilalui para pelancong kaki. Lokasi ini terletak di ketinggian sedang, sehingga mobilitas sewa mobil jepang sangat membantu untuk mencapainya tanpa perlu berjalan kaki dari stasiun bus yang jarang lewat.
– 17.30 — Perjalanan kembali ke Tokyo via jalur yang sedikit berbeda untuk variasi pemandangan.
– 19.30 — Tiba di hotel.
—
Opsi 3: Rute Tersembunyi dan Sejarah
- Durasi estimasi: 07.30 — 20.00
- Cocok untuk: Traveler independen, historiografi, fotografer yang bosan spot wisatawan
– 07.30 — Berangkat lebih awal dari Tokyo menuju Odawara terlebih dahulu, bukan Hakone.
– 09.00 — Odawara Castle. Sebelum memasuki Hakone, singgah di istana yang pernah menjadi benteng penting Klan Go-Hojo pada abad ke-15. Benteng ini direkonstruksi dengan teknik modern namun tetap mempertahankan benteng utama (tenshu) dari beton bermotif kayu. Dari lantai puncak, pemandangan membentang dari Teluk Sagami hingga awan yang menutupi pegunungan Hakone di utara.
– 10.30 — Masuk ke wilayah Hakone melalui jalur selatan yang kurang populer. Daiyuzan Saijoji Temple di Minamiashigara adalah kompleks kuil Zen dengan lebih dari 2.300 musim pine (matsu) yang rimbun. Kompleks ini milik aliran Rinzai dan memiliki sanmon (gerbang gunung) yang besar, serta aula utama yang terkadang digunakan untuk praktik zazen. Area ini jarang terdampar wisatawan asing karena tidak ada stasiun kereta yang berdekatan langsung.
– 12.00 — Makan siang di restoran lokal di Minamiashigara yang menyajikan soba buatan tangan dengan kuah kaldu ikan khas daerah Sagami. Tekstur mie yang sedikit lebih kasar dari soba umumnya menjadi ciri khas.
– 13.30 — Lake Ashi no Ura (Sisi Tersembunyi Danau Ashi). Alih-alih ke area Moto-Hakone yang ramai, sopir membawa ke sisi barat laut danau yang lebih sepi. Di sini terdapat Hakone-en Aquarium yang kecil namun memiliki koleksi ikan air tawar dan pinguin yang diletakkan di kandang outdoor dengan latar pegunungan — kombinasi yang aneh tapi menarik. Lebih jauh sedikit, Hakone Checkpoint (Hakone Sekisho) merupakan rekonstruksi pos pemeriksaan Edo di Jalan Tokaido. Di dalamnya ada diorama yang menjelaskan bagaimana wanita di masa lalu harus memperoleh surat izin khusus untuk melintas, sementara pedagang dibongkar barangnya untuk dicegah penyelundupan senjata.
– 15.30 — Sengokuhara Pampas Grass Fields (musiman: terbaik September–November). Padang ilalang yang membentang luas berwarna keemasan saat musim gugur. Berjalan melalui jalur setapah di tengah padang yang tingginya melebihi pinggang orang dewasa memberikan sensasi seperti berada di savana mini. Di luar musim ilalang, area ini menjadi taman bunga yang lebih pendek dan less dramatic namun tetap menyajikan panorama Gunung Fuji yang jelas dari sisi utara.
– 17.00 — Hakone-Yumoto untuk sesi ashiyu (pemandian kaki) di tepi sungai Hayakawa sebelum pulang, atau jika waktu masih longgar, singgah ke Naraya Cafe yang berada di gedung tua bergaya Taisho untuk secangkir kopi dan kue manju lokal.
– 18.00 — Perjalanan kembali ke Tokyo.
– 20.00 — Drop off di area tujuan.
—
Mengapa Tim Kami Selalu Menyarankan Sewa Mobil Jepang untuk Hakone
Pengalaman mengarungi Hakone menggunakan transportasi publik memang mungkin dilakukan, namun sering kali menghasilkan ritme perjalanan yang terburu-buru dan melelahkan. Berikut pertimbangan praktis yang tim kami temukan setelah bertahun-tahun mengantar wisatawan ke wilayah ini:
- 1. Menghindari Kompleksitas Hakone Loop yang Berlapis Rute wisatawan standar di Hakone mengharuskan perpindahan bertingkat: bus dari Odawara ke Moto-Hakone, kapal dari Moto-Hakone ke Togendai, ropeway dari Togendai ke Owakudani, cable car dari Owakudani ke Gora, dan kereta dari Gora kembali ke Hakone-Yumoto. Setiap moda memiliki jadwal terpisah yang jika terlewat sedikit saja, bisa membuat wisatawan terjebak di Togendai selama 40 menit menunggu kapal berikutnya. Dengan sewa mobil jepang, perjalanan dari Moto-Hakone ke Owakudani bisa ditempuh via jalan pegunungan dalam waktu 25 menit, menghemat waktu transit yang signifikan.
- 2. Akses ke Destinasi Non-Loop Destinasi seperti POLA Museum, Amazake Chaya, atau Daiyuzan Temple tidak terhubung dengan jaringan bus wisatawan yang efisien. Mengunjungi ketiga tempat ini dalam sehari dengan transportasi publik hampir mustahil tanpa menghabiskan lebih dari setengah hari hanya untuk menunggu dan berjalan ke halte.
- 3. Mobilitas Barang dan Cuaca Suhu di Owakudani bisa turun drastis bahkan saat Tokyo sedang panas. Kabut di Danau Ashi bisa datang tiba-tiba dan menurunkan jarak pandang. Dalam mobil, jaket cadangan, payung, atau perlengkapan tambahan bisa tersimpan rapi di bagasi. Jika hujan turun saat berada di Hakone Shrine, tidak perlu bergegas mencari shelter lalu mengantre bus basah-basahan.
- 4. Fleksibilitas Menu dan Alergi Sopir yang familiar dengan area Hakone biasanya mengetahui restoran mana yang menyediakan menu vegetarian, restoran mana yang tutup hari Selasa, atau kedai soba mana yang antreannya lebih masuk akal dibandingkan tempat populer di dekat dermaga.
- 5. Efisiensi Biaya untuk Rombongan Untuk grup 4–5 orang, biaya tiket masuk semua moda transportasi publik di Hakone (bus, kapal, ropeway, cable car, kereta) ditambah tiket masuk beberapa spot bisa menyentuh 15.000–18.000 yen per orang. Biaya sewa sewa mobil jepang untuk rombongan sering kali lebih ekonomis ketika dihitung per kepala, ditambah kenyamanan yang tidak bisa diukur dengan nominal.
—
Sebelum Hari di Hakone Hanya Jadi Rencana Tertunda
Hakone adalah kawasan yang membalas kesabaran. Mereka yang datang dengan waktu terbatas dan logistik buruk sering pulang hanya dengan foto torii dan telur hitam dari Owakudani — yang memang ikonik, tapi bukan keseluruhan cerita. Hakone punya lapisan sejarah di Daiyuzan, seni di Chokoku no Mori, keheningan di Sengokuhara, dan kehangatan sebuah cangkir amazake di pondok kayu tua yang telah bertahan ratusan tahun.
Tim kami di tourjepang.co.id menyediakan layanan konsultasi perjalanan tanpa biaya. Kami akan mendengarkan siapa saja yang ikut dalam rombongan, minat utama, dan batasan fisik jika ada. Dari situ, kami menyusun rute yang bisa disetujui, diubah, atau ditolak — tanpa tekanan. Butuh mobil dengan kursi yang lebih tinggi untuk orang tua? Bisa. Ingin fokus pada museums dan menghindari keramaian bus wisatawan? Rute akan disesuaikan. Ada balita yang membutuhkan tempat istirahat dan perubahan popok setiap dua jam? Jadwal akan diperlonggar di sepanjang jalan.
Jika Dion-sama dan keluarga atau teman-teman memutuskan untuk melanjutkan, kami menyediakan layanan sewa sewa mobil jepang lengkap dengan sopir berlisensi dan berpengalaman yang menguasai jalan alternatif di sekitar Hakone, restoran dengan parkir yang memadai, dan spot foto yang tidak tercantum di panduan wisata umum. Reservasi bisa dilakukan kapan saja, bahkan untuk keberangkatan dalam waktu yang relatif dekat.
Hubungi tim kami di tourjepang.co.id untuk konsultasi gratis. Biarkan kami menyusun satu hari di Hakone yang tidak hanya terisi oleh checklist tempat wisata, tetapi juga oleh momen-momen yang akan diingat setelah perjalanan usai. Satu hari cukup, asalkan hari itu berjalan sesuai irama yang tepat.
—
- Referensi Internal: – Day Trip ke Mount Fuji dari Tokyo: 3 Itinerary Lengkap 2026 (tripjepang.com)
– Day Trip ke Nikko dari Tokyo: Panduan Lengkap 2026 (tripjepang.com)



